Tampilkan postingan dengan label Media Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Lainnya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 April 2013

Memulai Bisnis Tanpa Modal

Berbisnis dari nol? Bagaimana mungkin? Itulah yang sering saya dengar dari kebanyakan orang. Saya sendiri menganggap pada awalnya bahwa berbisnis itu haruslah memiliki modal besar sehingga dulu selalu menunda-nunda untuk memulai berwirausaha. Namun pandangan itu berubah setelah saya bergabung dengan sebuah komunitas bisnis di Banjarbaru, lucunya pada saat bergabung dengan komunitas tersebut sayalah satu-satunya yang belum memiliki bisnis. Karena kawan-kawan di dalam komunitas sering memotivasi saya untuk berani memulai bisnis. Akhirnya saya memutuskan untuk berwirausaha dengan cara menjualkan produk teman-teman saya di komunitas tersebut. Mulai dari menjualkan komputer milik teman hingga menjualkan perumahan seorang Developer Properti di komunitas tersebut. Hal itu saya lakukan tanpa modal sama sekali, dengan hanya meminta brosur dari mereka saya berjualan menggunakan sosial media dan beberapa kerabat kenalan saya. Meskipun komisi saya hanya 10 % tapi lama kelamaan saya akhirnya bisa mengumpulkan modal sedikit demi sedikit untuk membesarkan usaha sendiri.

Kini, saya sudah berani membangun perumahan sendiri kemudian menjualnya. Meskipun hanya kaplingan, tapi bagi saya yang baru memulai bisnis kurang dari 2 tahun, hal tersebut sangatlah berarti dan saya berhasil mematahkan mitos bahwa berbisnis haruslah memerlukan modal besar. Inilah beberapa kunci untuk berbisnis dari nol, yang pertama adalah harus memiliki banyak teman, rajin bersilaturahmi, jangan takut bergabung dengan komunitas. Bisnis saya diawali karena saya menawarkan diri untuk menjadi sales produk teman-teman saya dikomunitas, selain itu jangan cepat puas, pada saat mendapatkan komisi dari penjualan komputer dan rumah teman saya. Saya tidak pernah membelanjakannya, saya selalu menyimpannya dalam bentuk emas dan setelah mencukupi, kemudian saya membeli sebidang tanah untuk membangun perumahan sendiri. Nah itulah yang saya lakukan, berbisnis itu mudah bukan? Bahkan dengan tanpa modal sekalipun.

Minggu, 24 Februari 2013

Rahasia Cepat Beli Rumah tanpa Modal bagi Mahasiswa

Sudah cek harga properti yang semakin naik dari tahun ke tahun??? Ya, setidaknya harga properti mengalami kenaikan 10 - 20 % setiap tahunnya. Semakin mahalnya harga rumah tersebut membuat kita, terutama mahasiswa bertanya-tanya apakah nanti kita bisa membeli rumah sendiri dan untuk keluarga kita???. Apalagi melihat fakta bahwa banyak sarjana yang setelah lulus tidak mendapatkan pekerjaan ataupun telah berkerja ternyata gajinya tidak mencukupi untuk membeli rumah.


Jangan menyerah dulu!!! Selama ada kemauan, pasti ada jalan bro!!!. Ada beberapa cara yang anda bisa lakukan, bahkan saat anda masih duduk di bangku kuliah sekalipun. Simak tips berikut ini :

  • Rencanakan kapan akan membeli rumah
Sebaiknya maksimal 5 tahun setelah mulai bekerja atau setelah lulus kuliah.

  • Hitung harga rumah masa depan
Berpikirlah secara realistis, tentukan kisaran harga rumah yang diminati (jangan terlalu mahal), kemudian hitungalah harga rumah tersebut di masa mendatang (tentu lebih mahal dari sekarang). Marilah kita hitung dengan rumus:

FV = PV * (1 + i)^n

FV : harga rumah sekarang
PV : harga rumah mendatang
i : faktor kenaikan harga rumah (misalnya 10 persen-20 persen per tahun)
n : waktu yang tersedia untuk memiliki rumah, misalkan lama kuliah 3 tahun, ingin memiliki rumah 3 tahun setelah lulus, maka nilai 'n' menjadi 6 tahun

Contohnya jika anda ingin membeli rumah yang saat ini harganya sebesar 100 juta rupiah. Maka :
FV = 100 Juta * (1+10%)^6 adalah senilai 177 Juta.

  • Kencangkan Ikat Pinggang
Segala sesuatu harus diraih dengan perjuangan, salah satunya adalah dengan mengalokasikan uang pribadi kita. Alokasikan minimal 10 % dari uang kiriman orang tua anda untuk dana pembelian rumah. Hal-hal lainnya bisa kalian lakukan dengan mengurangi porsi makan yang bisa hanya 2 kali sehari, mengurangi uang hura-hura dan lain sebagainya.
  • Cari penghasilan tambahan
Berapa pun besar uang saku yang diterima tiap bulan dari keluarga, alangkah baiknya jika Anda juga mulai belajar mendapatkan pekerjaan tambahan yang bersifat paruh waktu. Pekerjaan ini dapat dibagi menjadi pekerjaan yang menunjang kuliah, atau yang tidak terkait dengan mata kuliah yang ada. Yang paling penting adalah waktu untuk bekerja tidak boleh menyita waktu belajar! Ingat, tugas utama seorang mahasiswa adalah belajar. Bekerja hanyalah sebagai tambahan.
  • Mulai melakukan investasi
Sebesar apa pun rencana kepemilikan rumah yang Anda idamkan kelak pasti tidak akan terwujud tanpa adanya investasi. Lakukan dari sekarang dengan melakukan investasi seperti pada reksa dana saham,emas,bisnis internet. Target return investasi per tahun dapat Anda hitung dengan asumsi 20 persen.
  • Melalui proses KPR
Pemerintah mempunyai program untuk membantu masyarakat agar bisa memiliki rumah. Yaitu program Kredit Pembelian Rumah (KPR) dimana anda berkerja sama dengan pihak Bank untuk membayar cicilan rumah. Disini anda cukup membayar 20 % dari harga rumah, sementara sisanya adalah dari pihak Bank. Selanjutnya anda cukup membayar cicilan pelunasan kepada pihak Bank.

Misalkan anda ingin membeli rumah dengan harga 177 juta, maka anda tinggal mencari dana sebesar 20% x 177 juta yaitu 35,4 Juta. Menurut analisa jika anda menyisihkan dana uang kiriman dan hasil kerja sampingan sebesar 50ribu setiap harinya, maka anda cukup memerlukan waktu selama 2 tahun saja untuk bisa membayar uang muka KPR tersebut.

Lalu darimana anda membayar cicilan KPR tersebut???
Disinilah kreativitas anda diperlukan, anda bisa saja menyewakan rumah yang sudah anda beli ataupun dengan cara membuka usaha di rumah tersebut untuk membayar cician, tentu saja dengan mempertimbangkan apakah lokasi rumah tersebut strategis ataupun tidak.

Demikian para mahasiswa dan calon mahasiswa, dengan menyisihkan minimum Rp 15.757 hingga Rp 42.163 per hari, maka Anda dapat memiliki rumah melalui KPR dengan harga Rp 350 juta hingga Rp 1 milar. Sebuah investasi yang sangat bermakna bukan? Selamat berinvestasi bagi Anda para mahasiswa dan calon mahasiswa. Sukses untuk kita semua.



Minggu, 17 Februari 2013

Public Speaking itu Ternyata Menakutkan


Berbicara dihadapan orang banyak? Sebetulnya bukanlah hal yang terlalu menarik bagi saya waktu dulu. Bahkan, berbicara dengan orang disebelah saya saja sering tidak berminat. Berbicara memang bukanlah hal yang saya sukai, kecuali dengan orang-orang terdekat saja saya sering dikenal suka banyak omong.


 Namun semua berubah saat memasuki dunia perguruan tinggi. Terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan membuat saya mau tidak mau harus pintar berkomunikasi. Entah kenapa saya jadi lebih sering berbicara, bahkan karena dianggap cukup komunikatif, dalam beberapa kesempatan saya sering dipercaya oleh teman-teman untuk menjadi ketua panitia pelaksana hingga menjadi ketua organisasi dikampus. Nah, ternyata tantangan selanjutnya muncul, yakni saya dituntut untuk berani berbicara dihadapan orang yang lebih banyak.

Saya ingat, Saat pertama kali memimpin rapat, keringat dingin keluar dari tangan. Bahkan saya mencatat kata-kata yang harus saya ucapkan saat memimpin rapat, persis seorang khatib yang membaca khutbah di mimbar. Saat itu saya ditertawakan oleh teman-teman yang lain. Namun, meski malu saya ternyata ketagihan untuk bisa berbicara dihadapan orang banyak. Sejak saat itu saya selalu mengiyakan segala bentuk kesempatan untuk bisa melatih kemampuan berbicara saya. Mulai dari menjadi pembawa acara, moderator ,memberikan sambutan sampai membaca doa sekalipun. Lucunya saya sering sekali membuat kesalahan, seperti saat memeberikan sambutan pernah salah menyebut nama orang penting. Saat membaca doa, pernah tidak hafal doa yang dibaca. Ya, entah kenapa selalu saja ada kesalahan yang saya buat. Sampai-sampai muncul image bahwa jika saya diberikan kesempatan untuk berbicara pasti ada hal memalukan yang akan terjadi. Beberapa kali saya sering diremehkan oleh beberapa rekan jika saya mengajukan diri untuk menjadi pembicara.

Pengalaman lainnya yang tidak terlupakan adalah saat berbicara dihadapan 800 mahasiswa baru. Saat itu saya diminta untuk memberikan seminar motivasi. Ternyata meski sudah sering berlatih, kegugupan dan kesalahan masih saya lakukan. Saat memberikan seminar tersebut, saya nervous bukan main, terus saja berbicara dan enggan menatap wajah peserta. Mungkin karena inilah jumlah peserta terbesar yang pernah saya hadapi. Yang saya ingat waktu itu, saat materi dari saya berakhir, peserta terdiam. Sayapun langsung kabur meninggalkan acara dan mengambil air wudhu… malu!!! Hehe

Meskipun hingga saat ini belum menjadi pembicara publik yang baik dan masih takut jika harus berbicara dihadapan orang banyak. Tapi saya masih bertekad untuk terus menerus berlatih. Saya mengevalusi bahwa kesalahan-kesalahan yang dulu terus menerus berulang-ulang terjadi karena saya tidak belajar dari kesalahan tersebut. Kini saya selalu mencatat minimal 3 kekurangan saat saya berbicara dihadapan orang lain dan akan memperbaikinya dilain kesempatan.


Berbicara dihadapan orang banyak bagi saya hingga kini masih saja menakutkan, tapi entah kenapa saya selalu terus menerus mencoba untuk menjadi seorang pembicara publik. Mungkin nasehat seorang motivator yang hingga kini saya ingat, bahwa satu-satunya cara untuk mengalahkan ketakutan hanyalah dengan menghadapinya. Nah, ada yang tertarik menjadikan saya seorang pemateri??? hehehe

Minggu, 30 Desember 2012

Hanya Orang Gila Yang Buka Usaha di Indonesia


Terima kasih sudah menyempatkan waktu anda untuk membaca tulisan ini. Yang judul sebenarnya adalah "Penyakit Birokrasi Menjegal Pengusaha". Tulisan ini saya kirimkan ke sebuah media lokal di Kalsel 1 minggu silam. Tapi oleh pihak redaksi masih dianggap belum layak muat.
Sumber tulisan ini sendiri adalah hasil diskusi yang saya tonton di sebuah televisi ditambah beberapa referensi  dari internet. Mungkin kawan-kawan yang pernah merasakan bagaimana rasanya mengurus perizinan usaha bisa berbagi disini. Saya sendiri memang mengalami 'kesulitan' dan memerlukan waktu yang lama meski hanya untuk mengurusi dokumen perizinan usaha. Dan silahkan beri masukan terhadap tulisan saya, mengingat saya masih harus banyak belajar dari rekan-rekan yang sudah berpengalaman.

Menjelang akhir tahun 2012, Indonesia nampaknya belum menjadi surga bagi para Entrepreuner. Dahi para pelaku usaha malah semakin berkerut karena masih buruknya birokrasi dalam penanganan dunia usaha. Salah satu penyakit warisan yang belum sembuh hingga sekarang adalah masalah perijinan usaha yang rumit dan berbelit-belit.

Memang kurang menyenangkan saat melihat hasil survey The Asia Foundation, dimana Indonesia masih menempati peringkat pertama di antara Negara-negara Asia-Pasifik sebagai Negara terlama dan korup dalam hal pengurusan izin usaha (Sumber : unisosdem.org).

Dalam laporan Doing Business oleh International Finance Corporation (IFC). Disebutkan bahwa untuk mendirikan usaha di Indonesia menghabiskan rata-rata 9 prosedur, 33 hari dan 22 % dari pendapatan per kapita nasional (Sumber : yptrading.co.id). Hasil ini memang lebih cepat 13 hari dan 8 % lebih murah dibandingkan laporan tahun 2010. Tapi Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara Asia-Pasifik lainnya. Sebut saja Malaysia, negara tetangga ini hanya memerlukan waktu 10 hari saja untuk mengurus izin mendirikan usaha. Sementara negara-negara seperti Selandia Baru, Australia dan Singapura hanya perlu 3 hari dan biaya 1 % saja dari pendapatan perkapita yang perlu dibayarkan dalam proses perizinan. Bahkan di Thailand proses izin usaha hanya memerlukan waktu selama 1 hari.

Tidak maksimal dan buruknya pelayanan serta banyak sekali pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan birokrasi ini, membuat para pengusaha yang ingin melegalkan usahanya memilih menjalankan usaha meski tanpa izin. Adapun yang berusaha mengurus dengan baik, malah kerap tidak mendapatkan kejelasan kecuali mereka mau mengeluarkan uang yang tidak jelas digunakan untuk apa. Pengamat ekonomi, Ichsanuddin Noorsy mengungkapkan bahwa dari 7.500 perusahaan di Indonesia yang mengajukan izin usaha, hanya sepertiganya yang terlayani dengan baik (Sumber : Media Indonesia.com). Pemerintah yang berasalan kekurangan tenaga untuk melayani sebetulnya tidak masuk akal, karena jumlah PNS yang mencapai 4,7 Juta orang ditambah Struktur Kabinet yang sangat gemuk. Tak sebanding dengan jumlah pengusaha Indonesia yang hanya berjumlah 400 ribu, atau hanya 0,18 % dari 240 juta penduduk Indonesia.
Sikap pemerintah seolah-olah menjegal para pengusaha yang diharapkan mampu menjadi solusi bagi kemiskinan dan pengangguran yang melanda negeri ini. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan akan bisa berkembang dengan pesat jika tidak memiliki izin yang legal. Karena dengan izin tersebut, sebuah perusahaan bisa mendapatkan akses kredit dan perbankan untuk menambah modal. Begitu pula jika ingin menembus pasar yang lebih luas, misalnya pasar-pasar modern di dalam dan luar negeri.

Padahal dengan mudahnya mendapatkan status formal bagi pelaku usaha terutama sektor Usaha Kecil dan Menengah (UMKM), Negara sebetulnya juga bisa mendapatkan keuntungan. Dengan status informal saja, UMKM mampu memperkerjakan 79 % tenaga kerja di Indonesia dan mampu menyumbang 56 % dari PBD setiap tahun. Entah kenapa pihak pemerintah enggan memanfaatkan peluang ini. Dari penelitian Pusat Layanan Perizinan Terpadu (PLPT) The Asia Foundation menyebutkan bahwa laba perusahaan pada umumnya naik setelah di formalisasi. Hal serupapun sebetulnya bisa dilakukan oleh Pemerintah Indonesia jika mau lebih serius memperbaiki masalah perizinan ini. Target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi minimal 8 % per tahun juga bisa segera terwujud.

Namun, pada kenyataannya. Meski para pengusaha mengetahui bahwa izin usaha juga bisa membantu perkembangan usahanya. Banyak yang enggan berurusan dengan birokrasi pemerintahan. Hal ini karena para pengusaha memperhitungkan manfaat perizinan yang kecil, sementara biaya yang dikeluarkan sangat besar. Bahkan sudah ada beberapa perusahaan lokal yang lebih memilih merelokasi perusahaannya ke luar negeri. Karena jelas para pengusaha yang berorientasi keuntungan, sehingga jika tidak lagi dihargai dan sistem sulit diperbaiki, jalan satu-satunya adalah mencari negara yang lebih menghormati dan menghargai perusahaannya.
Masalah birokrasi ini juga tidak hanya dialami pengusaha lokal tapi juga ternyata investor-investor asing yang malah juga dijadikan dijadikan sapi perah. Ditambah dengan polemik Upah Minimum Provinsi (UMP) dan masalah keamanan yang juga belum terselesaikan hingga saat ini, disebabkan karena gerak lambat dari pemerintah. Masalah kompleks tersebut menyebabkan para investor asing harus berpikir ulang jika ingin berinvestasi di Indonesia. Jika pengusaha dari dalam lesu dan investor luar juga enggan melirik Indonesia. Maka bukan tidak mungkin, perekonomian Indonesia akan mengalami kolaps yang parah.

Hal ini bisa dilihat dari Indeks daya saing Indonesia yang turun pada hasil survey World Economic Forum (WEF). Indonesia berada di peringkat 46 tahun lalu menjadi peringkat 50 tahun ini dari 144 negara. Dari tahun ke tahun, Indonesia semakin tertinggal dari negara-negara lain. Baik dari segi jumlah pengusaha, perbaikan kualitas iklim usaha dan aspek-aspek lainnya.

Jika tidak ingin melihat perekonomian Indonesia semakin memburuk, maka sebaiknya Pemerintah melakukan implementasi terhadap program-program yang selama ini sudah dijanjikan dengan baik. Seperti program satu atap yang saat ini sudah berjalan juga harus benar-benar di evaluasi. Karena masih terjadi pemungutan uang diluar prosedur. Begitu pula dengan janji untuk memangkas waktu pengurusan ijin menjadi 17 hari harus segera terealisasikan, maksimal 100 hari pertama di Tahun 2013. Selain itu sanksi tegas juga harus diberikan kepada oknum-oknum yang masih melakukan pelanggaran dan mempersulit perizinan usaha, agar menjadi shock therapy  bagi yang lain. Karena selama ini meski sanksi bagi oknum yang melanggar sudah di atur, tapi tidak ada pelaksanaan yang tegas dalam penegakan aturan tersebut. Sehingga membuat praktek korupsi di kelembagaan birokrasi perizinan usaha ini semakin merajalela. Kebijakan pemerintah harus melindungi pengusaha baik lokal maupun asing secara seimbang dan berpihak kepada masyarakat.

Para pengusaha yang banyak tergabung dalam asosiasi, himpunan dan komuntas lainnya juga sebaiknya berperan aktif untuk memeberikan masukan dan melakukan pengawasan terhadap program-program yang dijalankan pemerintah terkait perbaikan situasi dunia usaha.

 Akhirnya, tinggal keseriusan pemerintah yang sebaiknya dibuktikan dengan tindakan cepat dan nyata dari pusat hingga daerah. Sementara para pengusaha tak akan pernah bisa berkembang dan menjadi solusi masalah ekonomi bangsa, selama masih ada birokrasi yang di buat-buat menjadi rumit serta pemerintah yang korup.

Lalu betulkah bahwa orang di Indonesia yang membuka usaha itu sudah pada gila? Karena berani mengambil jalur wirausaha sebagai jalan hidup?, meski di negara ini banyak masalah dan tantangan yang harus dihadapi?.
Saya sendiri tidak tahu, karena saya juga baru merintis. Belum bertemu rintangan yang betul-betul berat sebagai seorang pengusaha. Tapi yang kini saya yakini adalah : Modal untuk berwirausaha itu adalah Tuhan, Kejujuran, Pengetahuan serta sedikit ~Kegilaan~. 


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls