Selasa, 19 Juni 2012

25 Kesalahan Guru dalam Pembelajaran

Saya hanya ingin berbagi mengenai hal-hal yang saya dapatkan pada workshop penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di SMK Cahaya Insani Banjarbaru pada 20 Juni 2012. Apa itu KTSP?, KTSP adalah kurikulum terbaru yang menjadi panduan dala proses belajar mengajar, sebelum KTSP kita telah mengenal beberapa kurikulum lain seperti KBK dll (padahal banyak, tap yang saya ingat cuman KBK dan KTSP.. hihi).

Menurut Bapak H. Syarbinie (Tim LPMP Kalsel), pengajar yang tidak menyusun kurikulum, sama seperti tidak mengajar. Karena kurikulum adalah rencana pengajaran yang sangat berguna bagi guru dan siswa untuk menjalani proses pembelajaran. Ada beberapa hal yang harus ada dalam kurikulum, yaitu tujuan pembelajaran, materi yang akan disampaikan, metode panyempaian, evaluasi dan yang terakhir analisa hasil evaluasi.

Ok... mungkin itu yang bisa sampaikan mengenai materi Kurikulum yang saya dapatkan tadi (berhubung mungkin itu juga yang bisa saya ingat). Eits... Tapi jangan kemana-mana dulu, karena ada hal menarik lagi yang harus saya sampaikan. Materi ini disampaikan oleh Bapak Edy Y. Pribadi dari Dinas Pendidikan Banjarbaru yang memaparkan 25 Kesalahan seorang guru dalam pembelajaran. Sadar atau tidak sadar, hal ini wajib dihindari oleh para guru agar tidak "mencederai" proses belajar dan tentunya tidak memberikan pengaruh buruk bagi siswa. Berikut 25 hal tersebut :
  1. Duduk di atas meja sewaktu proses pembelajaran.
  2. Sambil merokok saat mengajar.
  3. Makan saat mengajar.
  4. Bermain Hp atau Online saat mengajar.
  5. Tertidur. Meski jarang terjadi, tapi ternyata hal ini pernah dialami juga. Biasanya jika sang Guru hanya menyuruh siswanya membaca buku pelajaran saat pelajaran berlangsung (monoton).
  6. Menganggap diri paling pintar. Banyak yang bilang jika Doktor atau professor itu karena saking pintarnya sehingga membuat banyak mahasiswa tidak mengerti apa yang disampaikan kepada mereka. Seorang Guru tidak bisa menjadi seperti itu, Guru memiliki kewajiban untuk tidak hanya memintarkan diri sendiri tapi juga siswa-siswanya, sehingga kerendahan hati dan mampu menghargai kecerdasan dan potensi murid-muridnya adalah kunci seorang guru yang hebat.
  7. Monoton dalam menyampaikan materi. Indikasinya jika ada siswa yang tertidur saat jam pelajaran berlangsung.
  8. Tidak disiplin. Tepat waktu mungkin menjadi hal yang berat bagi orang Indonesia, ya hal ini semakin  parah jika sikap tidak disiplin ini dicontohkan oleh para Guru.
  9. Bolos.
  10. Komunikasi tidak efektif.
  11. Berpakaian tidak rapi. Kini guru tidak lagi identik dengan sepeda butut, baju lusuh. Tampil rapi apalagi bagi guru yang mempunyai keadaan ekonomi yang baik adalah hal wajib.
  12. Tidak melakukan evaluasi. Hal yang unik pernah terjadi, saat seorang guru ternyata memeberikan nilai kepada siswa yang sudah meninggal dunia, mengindikasikan jika guru tersebut tidak melakukan evaluasi saat pemberian nilai, tapi dari hasil abrakadabra.....
  13. Membiarkan menyontek.
  14. Membocorkan jawaban ujian. No 13 dan 14 tentu saja akan menyemarakkan generasi koruptor di negeri ini. Jika kita para guru sepakat bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah nilai (terutama SMK yang mengutamakan kompetensi). Maka sudah seharusnya pengembangan kreativitas dan potensi anak yang menjadi agenda utama, bukan membiarkan jalan-jalan pintas yang akan merusak masa depan mereka yang dilestarikan.
  15.  Mengubah perolehan nilai. Jangan mengurangi dan melebihkan, objektif saja sesuai kemampuan anak.
  16. Memberikan soal yang tidak diajarkan. Jangan membuat stress dan depresi anak-anak dengan memberikan soal ujian yang tidak pernah mereka sentuh.
  17. Menanamkan permusuhan dan kebencian. Hal yang paling indah saat menjadi guru, adalah saat kita mampu menanamkan sikap saling menghormati, menghargai dan cinta pada setiap generasi muda. Amal Jariyah cui.....
  18. Mengajarkan pornografi.
  19. Melakukan pelecehan seksual. Ini mah Naudzubillah, kita para guru itu dipercaya. Jangan membalasnya dengan melakukan hal-hal seperti nomor 18 dan 19.
  20. Tidak perduli terhadap presensi siswa.
  21. Diskriminatif. Semua murid itu adalah sama derajatnya di mata kita.
  22. Tidak memperhatikan perbedaan individual. Potensi, kekurangan dan kelebihan. Harus dengan jeli dipantau.
  23. Gaptek. Saat ini, murid dengan mudah sekali menjadi lebih pintar dari guru karena kemajuan teknologi. Sehingga tentu saja  para guru tidak boleh ketinggalan, apalagi teknologi dapat mempermudah guru dalam mempersiapkan bahan, mempermudah penyampaian dan tentu saja dengan hasil yang lebih maksimal. Persiapkanlah setiap generasi sesuai dengan zamannya.
  24. Mismatch. Disinilah pentingnya kurikullum.
  25. Lupa membaca dan belajar. Dari semua kesalahan-kesalahan di atas, kesalahan terakhir ini adalah yang paling parah. Jika seorang guru saja malas belajar, bagaimana mungkin dia bisa menciptakan generasi terbaik?. Bukankah perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri?
Saya sendiri tidak memiliki Background pendidikan seorang guru, tapi saat diberikan kesempatan memasuki dunia mengajar. Ternyata sangat menarik dan saya menyadari menjadi seorang guru adalah passion yang saya impikan. Meski masih harus belajar dan memperbaiki sana-sini (daftar25 di atas masih ada yang masih saya lakukan).

Pelatihan ini berlangsung hingga hari Jum'at (23 Juni 2012), semoga masih banyak hal menarik yang bisa saya sampaikan lagi melalui catatan blog ini. Bersama-sama kita menjadi pribadi yang layak untuk dipercaya dan diteladani, bagaimanapun juga beban untuk melahirkan generasi yang lebih baik sudah kita pikul. Maka mari berkerja dengan keras, ikhlas dan cerdas.

Jadilah guru dalam setiap kehidupanmu, karena guru akan berusaha memperbaiki dirinya agar layak untuk digugu dan ditiru. Akan terus rendah hati dan menghargai orang lain, karena guru tidak inign menjadi lilin yang mudah padam , melainkan pelita yang terang benderang.... (aduuh... bener gak sih nih kata-kata terakhir..hihi)

4 komentar:

faisal sikumbang mengatakan...

benar mas, guru merupakan publik figur, jadi seorang guru harus lah memberi contoh yang baik, ijin copas mas, trim's..

Fahdisjro Nyoy mengatakan...

Sepertinya yg paling sering terjadi adalah nomor terakhir. Guru harus terus belajar untuk mengupgrade pengetahuannya.

lathifah vajarini mengatakan...

that's right 👍👍👍

Anonim mengatakan...

Bagaimana jika guru langsung membicarakan perbuatan kita kepada orang tua sedangkan sekolah mempunyai fasilitas berupa bimbingan konseling?

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls